Menciptakan Ruang Aman untuk Pemimpin Perempuan: Sebuah Catatan RUMI-U



Masterclass RUMI-U keenam mengangkat tema khusus “Women in Leadership,” bekerjasama dengan pakar kepemimpinan dari the University of Oxford. Tema ini diangkat oleh Daya Dimensi Indonesia dan Rumah Mentor Indonesia, didukung oleh Srikandi BUMN dan Oxford Society of Indonesia: Oxford Talk and Debate Committee, sebagai dukungan untuk para pemimpin perempuan Indonesia untuk tetap bersemangat mengembangkan diri di masa pandemi. Masterclass ini mengundang Prof. Sue Dopson; Professor of Organisational Behaviour and Acting Dean of Saïd Business School the University of Oxford, Tina T. Kemala Intan; Direktur SDM dan Hukum PT Semen Indonesia (Persero) Tbk., dan Emma Sri Martini; Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero). Selain itu, opening remarks diberikan oleh Shanti Poesposoetjipto sebagai Chairperson RUMI dan Dr. Teddy Chandra sebagai President of Oxford Society of Indonesia.


Prof. Sue memulai paparan dengan sebuah pernyataan; “I dreamed a dream,” dimana imajinasi inilah yang membentuk dan mewarnai risetnya tentang kepemimpinan perempuan di masa kini dan masa depan. Berbagai riset saat ini menyatakan bahwa:

  • Terdapat perbedaan gaya kepemimpinan antara laki-laki dan perempuan

  • Kemampuan berpikir strategis dan visi pemimpin perempuan umumnya lebih lemah dibanding laki-laki, namun lebih kuat dalam finansial dan sosial

  • Partisipasi perempuan pada corporate boards dapat meningkatkan kinerja finansial dan sosial perusahaan, salah satunya dipaparkan dalam Global Leadership Forecast (DDI, 2021).


Terlepas dari bukti nyata bahwa partisipasi pemimpin perempuan memberikan manfaat pada perusahaan, masih banyak tantangan yang dihadapi. Salah satunya fenomena glass ceiling yang kerap terasa baik di negara maju maupun berkembang. Stigma negatif tentang bekerja dan membangun keluarga pun kebanyakan hanya dirasakan oleh perempuan. Karena itu studi tentang kepemimpinan berbasis gender saat ini bergeser; semakin banyak riset yang berfokus pada emotional intelligence, dampak kepemimpinan perempuan pada proses decision making perusahaan, dan gender bias dalam proses evaluasi leadership behaviour.


Prof. Sue kemudian menjelaskan tentang The Leadership Zone menggunakan perumpamaan rawa-rawa. “Menjadi pemimpin adalah seperti berada di tempat (comfort zone) yang dikelilingi hal yang tidak diketahui (swampy ground),” ujarnya. Karena itu imajinasi menjadi hal yang sangat penting bagi para pemimpin perempuan. Imajinasi ini dapat menjadi nyata dalam dua fase: para pemimpin harus membayangkan dirinya memimpin dengan berbagai cara yang berbeda (imagination in action), kemudian mencobanya dalam situasi nyata (play as enactment).


Prof. Sue mengelaborasikan proses imajinasi dan pembentukan identitas pemimpin perempuan dalam framework 4 tahap. Tahap pertama disebut imagination and discovery, tahap kedua adalah compliance and alignment, dilanjutkan dengan experimentation and self-expression, dan terakhir authenticity and self-expression. Dengan imajinasi, womenleaders dapat menghancurkan batasan-batasan yang dipasang baik oleh diri sendiri maupun lingkungan. Prof. Sue juga menegaskan pentingnya safe spaces bagi perempuan untuk menemukan dan membangun leadership identity mereka.


Pada segmen selanjutnya, Tina T. Kemala Intan selaku Ketua Srikandi BUMN menjelaskan konteks kepemimpinan perempuan di Indonesia. Tina membuka dengan penjelasan tentang inisiatif Srikandi BUMN sebagai wadah bagi perempuan berkarya di BUMN untuk saling mendukung, membangun personal and professional capability, dan belajar. Berdasarkan temuan dari survei Srikandi BUMN terhadap karyawan BUMN, terdapat persepsi positif pada seluruh dimensi asesmen. Baik karyawan laki-laki maupun perempuan merasakan bahwa tidak ada hambatan untuk meniti karir di perusahaan. Salah satu faktor terpenting yang membantu perempuan untuk mencapai karir tertingginya adalah keberadaan dan dukungan dari role model. Selain itu, tiga tantangan terbesar adalah work-family conflict, keterbatasan kesempatan untuk pengembangan diri, dan persepsi diri sendiri sebagai wanita karir. Sedangkan tiga dukungan terbesar adalah dukungan fasilitas yang memadai (seperti ruang laktasi, daycare, dsb), flexible leave, dan fleksibilitas pengaturan kerja.


Dalam menjawab tantangan tersebut, Srikandi BUMN menggiatkan development programs dalam tiga aspek:

  • Professional Development untuk mendukung perempuan menjadi top talent, program R&D, dan talent mobility;

  • Personal Development seperti career coaching dan women mentorship program; dan

  • Cultural Development termasuk program yang mendukung work-life balance, absence of glass ceiling, wellbeing, dan sharing event.


Tina juga menekankan pentingnya inklusivitas dan komunikasi yang tepat. Women leadership programme bukan tentang perempuan berkompetisi dengan laki-laki, melainkan memberikan kesempatan yang setara kepada seluruh karyawan untuk tumbuh dan berkontribusi kepada perusahaan.


Pemateri terakhir, Emma Sri Martini, menyampaikan pemaparannya dalam bentuk pre-recorded video. Emma menjelaskan beberapa temuan dari female empowerment survey dari McKinsey (2021) global & national benchmark Indonesia. Hasil survei tersebut mengonfirmasi bahwa perusahaan dengan lebih banyak pemimpin perempuan pada level strategis memiliki kinerja finansial (dengan average EBIT margin dan average ROA) yang lebih baik. Namun persentase pemimpin perempuan semakin berkurang pada jenjang karir yang lebih tinggi. Riset tersebut pun menyarankan perusahaan untuk memiliki support system dan kebijakan yang mendukung women leaders untuk mengembangkan karirnya. Hal ini konsisten dengan paparan Prof. Sue Dopson tentang imagination dan safe spaces. (GZN)

3 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua