stEERING COMMITTEE

Agus Martowardojo

Agus Dermawan Wintarto Martowardojo merupakan salah satu figur terkemuka di dunia perbankan Indonesia. Agus merupakan mantan Gubernur Bank Indonesia yang menjabat dari tahun 2013 sampai 2018. Sebelum menjadi Gubernur Bank Indonesia, beliau menjabat  sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Indonesia Bersatu II. Ia memegang beragam peran kunci di beberapa bank terkemuka di Indonesia, di antara lainnya Presiden Direktur dan CEO Bank Mandiri (2005-2010), Direktur Utama Bank Permata (2002-2005), Managing Director Bank Mandiri (1999-2002), Direktur Utama PT Bank Ekspor Impor Indonesia (1998-1999), dan Presiden Direktur Bank Bumiputera (1995-1998). Agus meraih gelar sarjana ekonomi di tahun 1984 dari Universitas Indonesia. Selama kariernya, Agus telah menerima beberapa penghargaan, di antara lainnya Governor of the Year se-Asia Pasifik Timur dari Global Markets (2017), Finance Minister of The Year 2012 di tingkat global dan Asia Pasifik dari The Banker (2012), dan Indonesian Banker Leadership Achievement Award 2010 dari Asian Banker (2010). Ia juga dianugerahi Bintang Mahaputera Adipradana oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2014.

Djohan Emir Setijoso

Djohan Emir Setijoso menjabat sebagai Presiden Komisaris BCA sejak 25 Agustus 2011. Sebelumnya, Ia memangku jabatan sebagai Presiden Direktur BCA pada tahun 1999 hingga tahun 2011, dengan tanggung jawab yang meliputi di antaranya Koordinasi Umum, Divisi Internal Audit, Perencanaan & Pengendalian Keuangan dan Sekretariat Perusahaan. Sebelum bergabung dengan BCA, Ia bekerja di Bank Rakyat Indonesia dari tahun 1965 hingga 1998 dengan jabatan terakhir sebagai Direktur, dan menjadi Komisaris Utama pada Inter Pacific Bank dari tahun 1993 hingga 1998. Selain berperan sebagai Presiden Komisaris BCA, beliau saat ini aktif dalam berbagai kegiatan organisasi, di antaranya menjadi Dewan Pengurus Harian Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) dan Dewan Kehormatan Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) sejak tahun 2011, serta sebagai Dewan Penasehat Perbanas sejak tahun 2009. Djohan Emir Setijoso menyelesaikan pendidikan S1 di Institut Pertanian Bogor.

Erry Riyana

Erry Riyana Hardjapamekas adalah tokoh terkemuka dalam gerakan antikorupsi Indonesia. Lulus dari Universitas Padjadjaran (UNPAD) pada 1978 dengan gelar sarjana akuntansi, Erry diangkat sebagai salah satu komisioner pertama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dari 2003 hingga 2007. Sebelum KPK, ia telah memegang sejumlah posisi eksekutif, termasuk Presiden Direktur PT. Timah, Tbk., Presiden Komisaris Bursa Efek Jakarta, Presiden Komisaris Bank BNI, Direktur Non-Eksekutif Maybank Berhad Kuala Lumpur, antara lain. Baru-baru ini, Erry pensiun sebagai Komisaris Utama PT. MRT Jakarta dan Ketua Dewan Pembina Universitas Indonesia.

RUMI%20-%20Graphic%20Pattern-01_edited.p

Gunarni Soeworo

Gunarni Soeworo adalah salah satu figur penting di industri perbankan Indonesia. Dia menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi dari Universitas Padjadjaran, Bandung pada tahun 1968. Beliau menjadi Presiden Direktur Bank Niaga pada tahun 1994. Kemudian ia memegang sejumlah posisi pada tahun 1999, di antaranya sebagai Wakil Komisaris Utama Bank Niaga (1999 - 2007), Wakil Ketua Komite Tata Kelola Perusahaan (1999-2004), Ketua Asosiasi Bank Nasional (Perbanas) periode (1999-2003), dan Ketua Kompartemen Perbankan Kadin Indonesia. Selain itu, ia juga menjabat sebagai Komisaris Independen Bank Mandiri (2005), Wakil Presiden Komisaris Bank Niaga (2002), Komisaris PT Garuda Indonesia, dan anggota Dewan Nasional Lembaga Bankir Indonesia (IBI).

Heru Prasetyo

Heru Prasetyo adalah sarjana Teknik Industri dari Institut Teknologi Bandung dan meraih gelar MBA dari Institut Manajemen Asia di Manila. Ia meniti karir profesional pertamanya dalam bidang konsultasi manajemen, pertama kali dengan Grup SGV dan terakhir duduk sebagai Country Managing Partner of Accenture (Andersen Consulting). Setelah pensiun dari firma konsultasi internasional ini, ia menjadi Direktur Donor dan Hubungan Internasional di Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi untuk Aceh dan Nias, pasca Tsunami Samudra Hindia 2004. Pada tahun 2009, ia ditugaskan sebagai Sekretaris untuk Satuan Tugas REDD+ (Reduction of Deforestation and Forest Degadration  - Plus) dan kemudian juga Sekretaris Komite Nasional untuk Agenda Pembangunan pasca 2015, yang mendukung Presiden sebagai Ketua Bersama High Level Panel of Eminent Persons atas prakarsa Sekretaris Jenderal PBB. Setelah Satuan Tugas REDD+ menyelesaikan desain organisasi, strategi dan instrumen pendanaannya, Heru ditunjuk sebagai Kepala Badan Pelaksana REDD+, yang posisinya setingkat Menteri yang melapor langsung kepada Presiden. Saat ini, beliau bertugas di Dewan IBL, WWF, Wetland Indonesia, Asia Pacific Alliance for Disaster Management dan duduk di Dewan Penasihat Sekolah SBM ITB. Ia juga merupakan salah satu pendiri dan penasihat di BRR Institute dan Institut Deliverologi Indonesia (IDeA).

Hilmi Panigoro

Hilmi Panigoro bergabung dengan Medco Group pada tahun 1997. Hilmi mengikuti program MBA Core di Thunderbird University, Arizona, Amerika Serikat pada tahun 1984 dan meraih gelar MSc dari Colorado School of Mines, Amerika Serikat di tahun 1988. Ia meraih gelar Insinyur Teknik Geologi dari Institut Teknologi Bandung di tahun 1981. Hilmi pertama kali bergabung dengan Medco Energi sebagai Vice President pada tahun 1997, sebelum kemudian menjadi Direktur Perseroan Medco Energi di tahun 1998-2001. Hilmi kemudian ditunjuk sebagai Direktur Utama PT Medco Energi Internasional Tbk pada tahun 2001. Selain itu, Hilmi sekarang juga menjabat sebagai Direktur dan Komisaris di beberapa anak perusahaan Medco. Group.

John S. Karamoy (1936–2021)

John Sadrak Karamoy adalah tokoh terkemuka dalam industri minyak dan gas di Indonesia. Ia memiliki lebih dari 50 tahun pengalaman dalam mengelola perusahaan minyak dan gas. Pada awal 1980, ia ditunjuk sebagai Wakil Presiden Korporat untuk PT Stanvac Indonesia, menjadi orang Indonesia pertama yang pernah menjabat posisi itu, sebelum pindah ke Huffco Indonesia sebagai Wakil Presiden Perusahaan pada tahun 1987. Pada tahun 1992, John mewujudkan mimpinya untuk membangun perusahaan minyak dan gas di Indonesia, ketika ia menjadi salah satu pendiri Medco E&P Indonesia. Saat itu, ia juga menjabat sebagai Presiden/CEO Perusahaan Exspan dan Komisaris MEDCO. Pada tahun 1998, ia diangkat sebagai Presiden Direktur/CEO PT Medco Energi International Tbk. Kemudian pada tahun 2001, ia menjadi Ketua Dewan Komisaris PT Medco Energi International Tbk. Di bawah kepemimpinannya, PT Medco Energi International Tbk. menerima banyak pengakuan, termasuk Best Managed Company, (2000), Perusahaan Minyak dan Gas Tumbuh Tercepat di Asia Tenggara (2001), dsb.

Kuntoro Mangkusubroto

Prof. Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto MSc. adalah Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP-PPP) dari 2010 hingga 2014. Sebelumnya, Prof. Kuntoro Mangkusubroto adalah Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias dari 2005 hingga 2009. Ia memegang peran penting dalam sektor energi dan sumber daya alam Indonesia, di mana ia diangkat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi (1998-1999). Dia juga menjabat sebagai Direktur di beberapa perusahaan yang berbeda, termasuk PLN (2000-2001), PTBA (perusahaan pertambangan batu bara negara, 1988- 1989), dan Timah (perusahaan penambangan timah negara, 1989-1993). Upaya restrukturisasi di Timah telah berhasil mengubah perusahaan ke titik di mana ia menjadi patokan untuk harga timah global. Prof. Kuntoro Mangkusubroto lulus dari Institut Teknologi Bandung dengan gelar PhD dan menerima gelar Magister Teknik dari Universitas Stanford.

Ogi Prastomiyono

Ogi Prastomiyono memulai karirnya di industri perbankan pada tahun 1984 bersama Bank Exim. Bank Exim mengutusnya langsung ke Amerika Serikat untuk belajar, di mana ia memperoleh gelar MBA dari Universitas Notre Dame pada tahun 1994. Ketika Bank Exim bergabung dengan Bank Mandiri pada tahun 1999, ia ditunjuk sebagai Kepala Grup Kepatuhan di Bank Mandiri. Menjelang akhir tahun 2003, ia diangkat sebagai Direktur Bank Syariah Mandiri, sebelum kembali ke Bank Mandiri. Pada tahun 2008, ia ditunjuk sebagai Direktur Bank Mandiri, di mana ia bertanggung jawab atas Kebijakan dan Sumber Daya Manusia. Beliau kemudian menjadi Direktur Operasi Bank Mandiri. Pada April 2018, Ogi Prastomiyono menjabat sebagai Direktur Layanan Strategis MIND ID.

Sarwono Kusumaatmadja

Sarwono Kusumaatmadja memulai perjalanannya dalam politik pada tahun 1971 sebagai anggota DPR-RI yang mewakili Golongan Karya. Ia menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung jurusan teknik sipil dan lulus pada tahun 1974. Pada tahun 1983, ia terpilih untuk menjabat sebagai Sekretaris Jenderal DPP Golkar yang pertama dengan latar belakang non-militer. Sarwono diangkat sebagai Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara periode 1988-1993, yang segera diikuti dengan penunjukannya sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup untuk periode 1993-1998. Pasca era Presiden Soeharto, Sarwono diangkat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan (1999-2001) pada kabinet Presiden Abdurrahman Wahid. Sarwono berpartisipasi dalam pemilihan umum sebagai kandidat untuk Dewan Perwakilan Daerah yang mewakili DKI Jakarta dan menjabat untuk periode 2004-2009. Di luar politik, Sarwono pernah menjabat sebagai Ketua Umum PB PELTI untuk periode 1994-1998, dan juga terlibat dalam berbagai kegiatan di sektor bisnis, sosial dan lingkungan.

Shanti Poesposoetjipto

Shanti Lasminingsih Poesposoetjipto adalah Komisaris Utama PT Samudera Indonesia Tbk saat ini. Ia menerima Diplom Ingenieur (Dipl.Ing.) Di bidang Teknik Elektro dari Universitas Teknologi Munich-Jerman (TU-Munich), jurusan Ilmu Komputer pada tahun 1974. Saat ini ia memegang sejumlah posisi, antara lain sebagai Presiden Komisaris PT Asuransi Bintang Tbk dan Direktur Utama PT Ngrumat Bondo Utomo, PT NBU Indonesia Utama, & PT Samudera Indonesia Tangguh. Pada tahun 2002, ia dianugerahi "Penghargaan Wanita Inspirasi tahun 2002" di Sektor Teknologi Informasi di wilayah Asia Pasifik oleh Singapore Women Business Connection. Pada tahun 2006, penghargaan “Nature Steward" secara resmi diberikan kepadanya untuk kepemimpinan dan dedikasinya dalam konservasi alam di Indonesia. Pada bulan Maret 2016, Ia diberi gelar “Order of The Crown" oleh Kerajaan Belgia atas jasanya dalam mengembangkan kerja sama bisnis antara Belgia dan Indonesia sebagai bagian dari tugasnya sebagai Ketua Dewan Eksekutif Kamar Indonesia-Belgia, Belanda dan Luxemburg.

RUMI%20-%20Graphic%20Pattern-01_edited.p
RUMI%20-%20Graphic%20Pattern-01_edited.p
RUMI%20-%20Graphic%20Pattern-01_edited.p