Menjadikan Krisis Sebagai Katalis Revolusi Mental: Sebuah Catatan RUMI-U

Diperbarui: 10 Sep 2021


Di tengah hiruk-pikuk Ramadhan kedua pada masa pandemi, RUMI dan Daya Dimensi Indonesia mengadakan RUMI-U Masterclass kelima secara daring. Kali ini, masterclass mengangkat tema “Crisis Leadership and Building Resiliency” bersama narasumber perempuan pertama dalam RUMI-U, Dr. Flocy Joseph; Head of Strategic Partnerships and Programme Director at Singapore Management University dan Kemal Imam Santoso; Mentor RUMI dan Komisaris Independen Prodia. Sesi diadakan pada 5 Mei 2021 dan dibuka oleh Ogi Prastomiyono selaku Steering Committee RUMI.


Masterclass hari ini membahas tentang studi Dr. Flocy tentang responsible leadership atau kepemimpinan yang bertanggung jawab; sebuah hal yang menjadi sangat relevan di masa pandemi saat ini. Dr. Flocy memulai dengan sebuah pertanyaan: pemimpin seperti apakah yang dapat bertahan dalam krisis? Krisis didefinisikan sebagai sebuah kejadian yang langka, memiliki dampak yang parah dan signifikan, mempengaruhi banyak stakeholder, dan mengundang publisitas. Ketika perusahaan mengalami krisis, hal pertama yang harus dilakukan adalah melakukan asesmen terhadap potensi besarnya dampak krisis terhadap perusahaan, kemudian menetapkan langkah untuk memitigasi risiko dan dampak tersebut.


Dr. Flocy memberikan dua contoh cara penanggulangan krisis yang berlawanan. CEO BP menghadapi insiden tumpahan minyak the Deepwater Horizon pada 2010 dengan kurang bijaksana. Sikap manajemen BP yang meremehkan krisis tidak hanya mengakibatkan kerugian finansial dan sanksi hukum, namun juga merusak brand image BP dan nilai perusahaan di mata media dan publik. Di sisi lain, CEO Starbucks menghadapi insiden rasisme yang terjadi di sebuah toko di Philadelphia pada 2018 dengan empati dan menyeluruh. Meskipun awalnya menghadapi kecaman di media sosial, CEO Starbucks dengan cepat memberi pernyataan maaf secara publik dan pendampingan bagi korban. Tidak hanya itu, Starbucks kemudian memberikan pelatihan antirasisme yang wajib diikuti oleh seluruh karyawannya. Melalui kedua contoh ini, Dr. Flocy menegaskan pentingnya taking ownership (mengakui), accountability (rasa tanggung jawab), dan taking corrective and preventive measures (aksi pemulihan dan pencegahan) dalam menghadapi krisis.


Dalam menghadapi krisis, Dr. Flocy juga menekankan pentingnya menjadi agile dan mengamalkan nilai perusahaan yang kuat dalam setiap jenjang kepegawaian. Mengutip bukunya, “Living the Corporate Purpose,” Dr. Flocy menyampaikan bahwa organisasi dengan purpose yang kuat mampu menghadapi krisis COVID-19 lebih baik dibandingkan dengan tidak. Tata Group di India contohnya, memiliki values kuat untuk mengembangkan komunitas dan bisnis beretika. Ketika COVID awal melanda India, Tata Group bersama dengan Taj Hotel Mumbai, salah satu hotel bintang lima, mengubah operasional hotel untuk mengakomodasi tenaga kesehatan.


Kemal sebagai Mentor RUMI pun menanggapi tentang pentingnya purpose dan agility. Dalam pengalamannya menangani salah satu organisasi kesehatan terbesar di dunia, BPJS Kesehatan, Kemal berpegang pada prinsip reflect, respond, reframe framework dalam menangani krisis. Kemal membiasakan untuk melibatkan banyak stakeholders yang berbeda agar mendapatkan informasi yang lengkap tentang situasi dan menggerakkan seluruh organisasi bersama melalui values perusahaan. Kemal juga mengingatkan untuk menerima kabar buruk dengan bijaksana dan “don’t shoot the messenger” (Jangan marah pada orang yang memberi kabar).


Sesi tanya jawab pun berlangsung meriah dan kritis, dipandu oleh moderator Martin William dari Daya Dimensi Indonesia. Dalam pertanyaan tentang kompetensi dan leadership style yang menjadi kunci dalam menangani krisis, Dr. Flocy menjawab dua hal: trust (rasa percaya) dan reputation (reputasi baik), dan decisive leadership (berani mengambil keputusan). Trust sendiri memiliki tiga dimensi, yakni ability (kemampuan), benevolence (berbicara secara personal), dan integrity. Namun rasa percaya dan reputasi baik justru harus dibangun pada masa damai, bukan saat krisis. Dr. Flocy dan Kemal juga menambahkan pentingnya collaborative and decisive leadership (pemimpin yang berani mengambil keputusan berbasis informasi bersama). Dalam posisi mendesak, pemimpin harus mampu mengambil keputusan cepat dengan melibatkan tim yang memberikan informasi dengan baik.


Dr. Flocy menutup sesi dengan memberikan beberapa poin yang penting diingat dalam mempersiapkan dan menghadapi krisis.

1. Cultivate an owner’s mindset

2. Be comfortable with discomfort

3. Over-preparation is not an oxymoron; the more you prepare is better

4. Being vulnerable is a strength

5. Everyone has a voice but not everyone has a vote – you will not be able to please everyone in the room. Who do you need to focus on?

6. Don’t go it alone – get a reliable & well-informed team to support you

7. Long term is dead. (GZN)

17 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua